Di sebuah kota X, terdapat sebuah tempat bimbingan belajar untuk anak – anak dari keluarga yang kurang mampu.Status tempat bimbingan belajar tersebut masi kontrak, dan akan segera habis masa kontraknya dalam beberapa bulan. Setiap pengurus dan tenaga sukarelawan yang terlibat di dalamnya terus bergumul. Mereka berusaha memberi apa yang mereka bisa, dan selalu bersatu hati untuk berdoa bagi pelayanan mereka di tempat bimbingan belajar itu. Berharap akan menemukan tempat yang baru bagi bimbingan belajar tersebut.

Berbagai usaha mereka lakukan. Mulai dari mencari sponsor, mengadakan kotak persembahan, mengumpulkan barang – barang bekas, koran bekas, dan kardus, kemudian dijual untuk mengumpulkan dana . Berharap Tuhan buka jalan bagi tempat baru untuk pelayanan mereka membimbing anak – anak keluarga yang kurang mampu.

Pada saat liburan sekolah, bulan Juni-Juli tahun 2007, bimbingan belajar tersebut mengadakan Sekolah Alkitab Liburan ( SAL ). SAL ini semacam kegiatan fellowship bagi anak – anak bimbingan, dimana mereka akan berekreasi, bermain, sambil mengenal akan kasih Tuhan dalam kegiatan bersama dalam kelompok.

Di Hari kedua SAL, seorang anak perserta SAL bernama Willy menghampiri gurunya sambil membawa sebuah celelngan plastik berwarna merah. Ia berkata kepada gurunya ; ” Bu, ini sedikit tabungan saya, semoga bisa membantu untuk tempat bimbingan belajar kita.” Sang guru hanya bisa tercengang, ia terdiam dan terharu. Dalam hatinya ia terus berpikir, betapa dasyatnya “kasih” itu.

Pergumulan akan tempat kontrakan yang terus mereka geluti dalam doa, dan kasih yang selama ini mereka berikan kepada anak didik mereka  ternyata bisa menggerakan hati seorang anak kecil. Saat dimana tiada seorang pun peduli akan tempat bimbingan dan pelayanan mereka, seorang anak kecil mau peduli, karena apa? Karena kasih. Kita harus belajar dari ketulusan anak kecil ini.

ttd,

Watin.

From :”watin wahyuningsih” <wtn_purple@plasa.com>