from:Nicko Albertto

Pada 28 februari 2008 di dekat uph, ada dua sosok kecil berumur kira kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam. Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue, saya hanya mengangkat tangan lebar lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan “Terima kasih Kak!”.
lalu mereka pun berjalan lagi , menyapa seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh
keceriaan, laki laki itupun menolak dengan gaya yang sama dengan saya, kantong hitam tampat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok tertabrak derai angin Jakarta . Saya melewatinya dengan lirikan kearah dalam kantong itu , duapertiga terisi tissue putih berbalut plastik transparan .
Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita , senyum diwajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang manggayut langit Jakarta .
” Terima kasih ya mbak .semuanya dua ribu lima ratus rupiah!” tukas mereka tak lama siwanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah .
” Maaf , nggak ada kembaliannya ..ada uang pas nggak mbak ? ” mereka menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya.
” kak, boleh tukar uang nggak , receh sepuluh ribuan ?” sedikit terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar empat ribu rupiah .
” Nggak punya , tukas saya !” lalu tak lama siwanita berkata ” ambil saja kembaliannya , dik !” sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya ke arah ujung sebelah timur.
Anak ini terkesiap , ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti , lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Siwanita kaget , setengah berteriak ia hilang ” sudah buat kamu saja , nggak apa..apa ambil saja !”, namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut. ” maaf mbak , Cuma ada empat ribu , nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan !” Akhirnya uang itu diterima siwanita karena sikecil pergi meninggalkannya.
Tinggallah episode saya dan mereka , uang sepuluh ribu digenggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya . mereka menghampiri saya dan berujar ” kak, bisa tunggu ya , saya tukar uang dulu!”.
” eeh .nggak usah ..nggak usah ..biar aja ..nih !” saya kasih uang itu kee si kecil, ia pun menolak lalu berlari.
Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya ,
” Nanti dulu kak , biar ditukar dulu ..sebentar “
” Nggak apa apa , itu buat kamu aja ” Lanjut saya
” jangan ..jangan, itu uang kakak sama mbak yang tadi juga ” anak itu bersikeras ” Sudah ..saya Ikhlas, lalu secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari kearah saya.
” Ini deh kak, kalau kelamaan , maaf ..” ia memberi saya delapan pack
tissue ” Buat apa ?” saya terbengong
” Habis teman saya lama sih kak, maaf , tukar pakai tissue aja dulu ” walau dikembalikan ia tetap menolak .
Saya tatap wajahnya ,Saya kalah, ia tetap kukuh. Beberapa saat saya mematung di sana , sampai sikecil telah kembali
dengan genggaman uang receh sepuluh ribu , dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah. “Terima kasih kak, !”..mereka pun lalu pergi!!!
didalam hati saya berkata: ya Tuhan, kekuatan
kepribadian mereka yang mampu menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh.
Saya pun membandingkan dengan keserakahan kita. memang usia memang tak menentukan kebijaksanaan.
Semoga pengalaman nyata ini mampu menggugah teman2 semua…
terima kasih!
Nicko Albertto…
Bule_Albertt@yahoo.com
March 3, 2008 at 10:41 am
Bagaimana karakter yang mulia, bisa bersiteguh sampai akhir hanyatnya? Bagaimana karakter yang bagus ini bisa menular ke orang-orang disekelilingnya?
March 7, 2008 at 11:06 am
Salam kenal.
Maaf,tulisan tsb karangan kah atau liputan?. Meskipun demikian saya tetap percaya Kejujuran, kasih sayang,masih ada disekitar kita.Semoga mereka tidak dipengaruhi lingkungan jalanan. trims
March 9, 2008 at 3:38 pm
karangan atau cerita nyata? saya juga gak taw. bahkan ada yang meng-klaim bahwa cerita ini bukan tulisan nicko alberto. siapa nicko alberto? saya juga tidak tahu.
bukankah ada dikatakan jika tangan kanan memberi, tangan kiri jangan sampai tahu?
mike
March 13, 2008 at 7:54 pm
salam kenal. mike.
March 18, 2008 at 5:51 am
Salam kenal, Saya sebentar menjenguk pojok ini terseret komentar tentang berkat di blok lain. Itu hikmah pertemuan.
Untuk si KECIL yang jujur, tulus itu beri bukti bahwa masih ada yang baik. Emas di pasir dan lumpur tanah tetap emas. Masih ada orang jujur dan benar. Mungkin karena ada mereka ini maka Tuhan menyimpan murkanya untuk meratakan kota ini laksana Sodom dan Gemorah….Deo Gratias.
April 25, 2008 at 1:29 pm
oh ini post yg smpt hebohin anak sipil 05…
masa nicko alberto ga kenal mike?
anak sipil 05 jg…
he3
JBU
May 5, 2008 at 11:55 am
salah kan, mike bukan anak sipil 05 taw, mike anak sipil 04….
June 29, 2008 at 12:23 pm
stlh ku baca, bacaan d atas pendapatq adl: ap yg tlh dilakkn sm si kecil n kakakny penjual tissue kpd konsumenny mmg benar n baik… wlpn byk kekurangan d dlm diri mrk but mrk sll percaya padaNYA yg sll mencukupkan akan segala sesuatu yg d harapkan or diinginkan oleh si kecil n ka2kny….
So stiap kita yg blm sadar akan apapun yg dilakkan oleh papa JC buat kita, mari kita mulai merubahnya dgn melihat kedua anak kecil n biar kita trs berjalan dgn tuntunan dr NYA buat hdp kita…. ^^.
GBU forever friend’s……
September 22, 2008 at 2:11 pm
Kalo menurut aku sich…nyata atau tidak, cerita ini telah mengugah hati kita, bgm sikap kita kalo menjadi kedua anak tsb? Apakah kita juga melakukan hal yg sama dengan kedua anak tsb?