Skip to content

Kenapa Pengamen dan Pengemis Terus Bertambah?

May 8, 2007

Hampir tiap hari aku pulang dengan kendaraan umum semenjak aku kecurian motor di dekat rumah. Dalam perjalanan di dalam kendaraan umum, hampir tidak pernah tidak berjumpa dengan pengamen dan pengemis jalanan. Dan kalo diperhatikan, rasanya semakin banyak saja.

Mungkin kita selalu berpikiran bahwa mereka yang mengamen dan mengemis adalah gembel yang tidak mempunyai pekerjaan, tidak punya rumah, atau hidup di bawah garis kemiskinan. Tapi belakangan ini, kenyataan itu sudah berubah. Dahulu pengemis adalah mereka yang dijuluki “sampah masyarakat”. Tetapi sekarang pengemis dan pengamen adalah sebuah profesi yang cukup bisa menjamin kehidupan, bahkan lebih.

Dulu kalo kita perhatikan, kebanyakan pengamen dan pengemis memakai baju usang, tinggal dan tidur dipinggir – pinggir jalan, dengan makan nasi bungkus apa adanya. Tapi perhatikan pengamen sekarang, kebanyakan anak – anak muda, dengan pakaian modis. Mungkin ada juga yang tampak lusuh, tapi benarkah demikian? Terkadang ada yang sedikit memaksa, bahkan ada yang mengancam, emosi bila tidak diberi. Modusnya macam – macam, dari menyanyi dan memainkan gitar, drum harmonika, ada juga yang memakai tape decorder, yang lain lagi membaca puisi, ada yang mendongeng, sampai ada yang pura – pura luka. Sering kali mereka tanpa malu mengakui, ” maaf anda diganggu oleh pengamen lagi dan pengamen lagi”, ya mereka memang tahu bahwa rekan seprofesi mereka baru saja turun dari kendaraan itu. Aku pernah memperhatikan anak – anak pengemis dipinggir jalan, mereka sudah bukan makan nasi bungkus, tapi “junk food”, walau mungkin junk food sekarang sudah banyak yang “sangat” terjangkau, Rp5000 bisa dapat makan 1x. Tapi jika benar – benar susah hidup mereka, bukankah lebih baik jika memasak di rumah, pastinya lebih murah dan sisa uang bisa untuk biaya lain, misalnya sekolah. Tampaknya gaya hidup modern dan gengsi ibukota juga turut membudaya di diri para pengemis dan pengamen itu.

Aku bukan berpendapat bahwa mereka tidak boleh menikmati hidup. Mereka berhak hidup bahagia. Hanya saja jika keadaan seperti ini terus, mereka sendiri tidak akan mengalami kemajuan dalam kehidupannya, baik ekonomi, status, standart hidup dan kesehatan. Jumlah pengemis dan pengamen yang cukup meresahkan pun akan terus bertambah. Mereka terlalu asik berkubang dalam kubangan lumpur dan malas untuk bangun.

Mari kita tinjau dari sudut para pengamen dan pengemis itu sendiri. Saya pernah punya pengalaman, dulu aku pernah melihat ada seorang pengemis yang pura – pura luka di kaki, minta tolong biaya operasi di rumah sakit sampai berlutut di lantai kendaraan. Baru saja hari ini saku melihat dia lagi, dengan posisi luka yang berbeda di tangannya. Ada pula yang pura- pura rohani, berdo, sambil meminta bantuan untuk isterinya di rumah sakit karena pendarahan. Tetapi waktu bertemu lagi di statiun, dia hanya memakai kaus oblong, tubuhnya penuh tatto, dan sikapnya sangat sangar, jauh berbeda dengan di kendaraan umum, rupanya dia preman.

Aku juga mengenal seorang mantan pengamen jalanan, sebut saja namanya Run, yang bekerja di sebuah perusahaan saudara aku. Di sana dia baru bekerja tiga bulan dan di gaji hanya sesuai UMR, karena pekerjaannya hanya sebagai kurir tiket. Tak lama berselang aku mendapat kabar dia mengundurkan diri karena berselisih paham masalah gaji. Dia merasa gajinya terlalu kecil. Mari kita luruskan masalah ini. Dia berpendidikan STM, baru lulus dan menganggur. Pengalaman kerja belum ada selain mengamen selama menganggur. Bekerja dengan tanggung jawab sebagai kurir, dan baru bekerja beberapa bulan. Kata bossnya, kredibilitas dan tanggung jawabnya pun diragukan. Tetapi dia menuntut gaji yang tinggi. Bagaimana tidak, dia pernah bercerita, selama dia mengamen dalam sehari rata- rata dia bisa mengantongi uang sekitar 50 – 75 ribu rupiah, berarti dalam sebulan penghasilannya bisa mencapai 1.5 – 2 juta, setara gaji manager. Mari kita hitung kebenarannya. Bila dalam satu kendaraan umum setara bus, sekali mengamen ia bisa memperoleh paling sial Rp 3000 untuk 15 menit mengamen, kira – kira dalam sehari berapa puluh bus yang bisa ia naiki? Jika ia mengamen dalam 8 jam, maka efektifnya bila termakan waktu, satu bus 0.5 jam, ia bisa menaiki 16 bus x Rp 3000 = Rp 48000 x 30 hari = Rp 1.440.000. Itu kita hitung bila “benar – benar sial”, hanya Rp 3000 perbus, hanya mengamen selama 8 jam dan hanya bisa menaiki 16 bus. Bagaimana bila lebih?. Sementara dengan jabatan kurir yang baru bekerja 3 bulan dengan 8 jam kerja sehari, 26 hari sebulan, ia hanya memperoleh UMR. Bagaimana dan untuk apa dia bisa bertahan?

Berbeda lagi cerita seorang mantan penjaga dan bellboys billiard, yang juga bisa dikatakan mantan preman billiard. Sebut saja namanya Firman.Dia memang tidak digaji tinggi, mungkin kurang dari UMR. Tetapi dengan pekerjaan sebagai bellboys, dia mengaku sering memperoleh tips dari pengunjung yang menggunakan jasanya melayani mereka yang bermain billiard. Belum lagi bonus dari pemilik bila jumlah pengunjung meningkat. Ya, kita tidak bisa menghitung pasti jumlah tips yang bisa ia peroleh pertiap meja karena itu tergantung kerelaan pengunjung, tapi bisa diperkirakan yang jelas pasti dia memperoleh lebih dari Rp 25000/ hari untuk tips, itu bila kita perkirakan dalam sehari hanya ada 5 pengunjung dan masing – masing memberi hanya Rp 5000, pasti bisa lebih. Yang jelas ia bisa memperoleh lebih dari UMR dalam sebulan. Sekarang dia juga bekerja pada perusahaan yang sama dengan jabatan yang sama, hanya saja gajinya sedikit lebih besar dari UMR, karena ia sudah bekerja selama 1.5 tahun. Bahkan pada awal mulanya, gajinya sedikit di bawah UMR. Tetapi ia bekerja dengan penuh tanggung jawab dan kredibilitas tinggi.

Dari kedua kasus di atas, kita lihat dua perbedaan sikap dan motivasi. Run yang terlanjur terlena dan berkubang di lubang lumpur, ia terlena dengan pendapatan yang tinggi. Ia ingin sampai kepuncak gunung tanpa mendaki, tidak memikirkan masa depannya. Ia lebih nyaman dengan profesinya sebagai pengamen. Sementara Firman adalah seorang yang ingin maju. Ia ingin meningkatkan taraf hidupnya. Mungkin ia tidak mendapatkan pendapatan seperti yang ia peroleh sebelumnya, tetapi ia telah menunjukan “pribadi yang berkembang”. Tentunya masa depan kedua orang ini dapat kita perkirakan. Bila Run tidak juga keluar dari lubang lumpurnya, maka selamanya ia akan tetap begitu, hanya mengamen dan mengamen. Bagaimana tua nanti? Sementara dengan Firman, ia mau menunjukan kapasitasnya sebagai manusia yang meu berkembang, tidak hanya melihat dari segi pendapatan melainkan investasi untuk masa depan. Jika ia tetap menunjukan prestasi, kredibilitas dan kapasitasnya, mungkin saja suatu saat ia akan memperoleh rekomendasi untuk pekerjaan yang lebih baik.

Dua kasus di atas juga mewakili bagaimana sikap mental pengemis dan pengamen di ibukota ini. Bukan aku ingin melarang teman – teman memberi sumbangan, hanya saja jadilah bijak dalam memberi sedekah. Aku hanya ingin membuka cakrawala teman – teman dengan berbagi pengalaman ini.

Tuhan berkati.

One Comment leave one →
  1. September 25, 2007 12:37 pm

    selektiflah dalam memberi sedekah kepada pengemis. Tuhan memberkati…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: