Skip to content

Trans Jakarta, Gagal?

June 11, 2007

Berebut tiket

Buat teman – teman yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya (dejabotabek), apakah pernah naik atau minimal denger tentang bus Trans Jakarta, atau yang lebih dikenal dengan Bus Way? Harusnya pernah denger minimal. Nama sebenarnya adalah Bus Trans Jakarta, Bus way itu sebenarnya adalah nama jalurnya.

Pada awalnya proyek bus Trans Jakarta ini sangat kontroversial sekali, banyak pertentangan berdasarkan asumsi yang berbeda. Bus Trans Jakarta pada awalnya diharapkan dapat menjadi solusi tepat dalam menanggulangi kemacetan yang terjadi di ibukota. Diharapkan penggunaan kendaraan pribadi terutama di jam – jam macet dapat dikurangi dengan adanya kendaraan umum yang ‘eksklusif’ dan dapat menjangkau berbagai rute tujuan di Jakarta ini.

Kontroversial akan Bus Trans Jakarta ini terutama disebabkan karena pembangunan jalur khusus yang justru mengurangi jalur umum kendaraan, sehingga ruas jalan umum menjadi lebih sempit, akibatnya diasumsikan kemacetan dapat bertambah parah. Namun ini adalah salah satu konsekuensi yang tidak dapat dihindarkan. Bus Trans Jakarta mungkin secara tidak langsung ditujukan untuk kalangan menengah ke atas, karena sasaran utamanya adalah mengurangi penggunaan kendaraan pribadi di ruas jalan, sementara tentu yang mempunyai kendaraan pribadi adalah kalangan menengah ke atas.

Pada awalnya mungkin memang sasaran dapat tercapai. Ada beberapa pernyataan dari masyarakat terutama para eksekutif yang sempat berkata bahwa lebih baik menaiki Bus Trans Jakarta pada jam – jam sibuk ketimbang menaiki mobil pribadi mereka yang nyaman, karena dengan demikian dapat terhindar dari kemacetan. Apalagi ditunjang fasilitas dan kenyamanan yang memadai.

Akan tetapi semua berubah seiring berjalannya waktu. Entah apa karena salah sasaran atau salah kebijakan, pengguna Bus Trans Jakarta yang semakin melonjak terutama pada jam – jam sibuk lalu lintas, yang justru didominasi oleh golongan menengah ke bawah, dalam hal ini mereka yang tidak punya kendaraan pribadi. Bukan maksudnya mengadakan diskriminasi golongan, aku juga termasuk mereka yang tidak punya kendaraan pribadi, hanya saja akibatnya mereka yang memiliki kendaraan pribadi kembali memilih menaiki kendaraan mereka sendiri. Menaiki Bus Trans Jakarta justru memakan waktu lama karena mengantri di halte, belum lagi jumlah penumpang yang membludak, berdesak – desak dan berebutan, juga tingkat keamanan yang semakin minim. Akibatnya kepadatan lalu lintas kembali meningkat, dan kemacetan tetap terjadi. Bahkan ruas jalan umum yang semakin sempit memperparah kemacetan.

Memang serba salah, Bus Trans Jakarta ditujukan untuk mengurangi kemacetan, tetapi Bus Trans Jakarta juga dimaksudkan untuk menjadi sarana transportasi umum yang dapat menjangkau berbagai rute dan dapat digunakan oleh berbagai golongan masyarakat. Menaikan harga tiket mungkin dapat menyelesaikan masalah, tetapi menyebabkan kehilangan salah satu sasaran Bus Trans Jakarta tersebut.

Sebenarnya ada satu solusi mudah, yaitu meningkatan fasilitas Bus Trans Jakarta baik dari segi kualitas dan kuantitas, salah satunya adalah jumlah armada. Hal ini dapat mengurangi penumpang yang terlalu penuh, selain meningkatkan kenyaman pengguna. Sehingga diharapkan dari golongan menengah ke atas dapat kembali memilih menggunakan fasilitas Bus Trans Jakarta ketimbang kendaraan pribadi mereka.

Tetapi hal ini terbentur masalah biaya tentunya. Peningkatan fasilitas dari segi kulitas dan kuantitas tentu memerlukan tambahan dana untuk pengembangan, ini yang menghambat. Akan tetapi kenapa seluruh jajaran dari pihak Bus Trans Jakarta tidak mau mengakui hal ini? Aku pribadi pernah bertanya kepada penjaga loket, penjaga pintu, kondektur bahkan sopir Bus Trans Jakarta, kenapa penumpang bus begitu berdesak- desakan, apakah karena jumlah armada yang kurang?

Namun semua memberikan jawaban yang hampir senada, yaitu salah penumpang, jika saja semua mau tertib dan sabar menunggu, maka tidak akan terjadi desak – desakan dan overload pada Bus Trans Jakarta. Jawaban ini hanya sebuah pelarian. bagaimana penumpang dapat bersabar jika memakan waktu berjam – jam untuk menaiki bus, belum lagi kondisi halte yang penuh sesak meningkatkan emosi.Aneh jika staff Bus Trans Jakarta terutama mereka yang berada di jajaran atas,seperti para pimpinan dan perencana tidak menyadari hal ini. Atau mereka sengaja tidak mau tahu, menutup mata dan justru bersyukur atas kondisi ini karena dapat memperoleh keuntungan lebih bagi perusahaan.

Sebagai calon enggineer, aku punya pendapat pribadi yang didasari perhitungan logika. Kondisi yang overload pada Bus Trans Jakarta tentu akibat jumlah penumpang yang melebihi kapasitas layan maximum, atau dengan kata lain jumlah armada bus yang kurang. Untuk mendapatkan jumlah armada yang masih dapat memenuhi kapasitas layan tentunya harus didasari perhitungan statistika yang benar. Menurut saya teori yang paling berpengaruh adalah teori tentang ‘persentil’, yaitu perhitungan fasilitas yang disediakan harus dapat menampung ‘jumlah persen’ tertentu dari jumlah penumpang maximum. Persen yang umum digunakan pada teori persentil, pada negara Eropa umumnya adalah 80- 90 % , maka jumlah armada harus yang disediakan untuk dapat melayani penumpang adalah sejumlah armada yang dapat melayani 80-90% penumpang maximum dalam keadaan layak. Akan tetapi teori ini diadopsi ke Indonesia, dengan persentil antara 65 – 75%, jumlah yang sangat signifikan. Akibatnya, ya seperti yang terlihat.

Semua kembali kepada pemerintah untuk serius dan berkomitmen dalam melaksanakan kebijakan yang telah dikeluarkan. JIka pemerintah benar – benar serius dalam proyek Bus Trans Jakarta, tentu alokasi dana bukan sesuatu yang sulit, dan bukan hal yang tidak berguna. Melainkan sebuah investasi untuk menciptakan citra Jakarta sebagai ibu kota Repoblik Indonesia.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: