Skip to content

“A Chamber” by Joshua Harris

June 12, 2007

 

Kisah ini adalah sebuah mimpi yang dialami oleh Joshua Harris yang ditulis dalam bukunya yang berjudul ; “I Kissed Dating Goodbye”,

Antara sadar dan tidak, saya menemukan diri saya di sebuah ruangan. Tidak ada ciri – ciri membedakan kecuali sebuah tembok yang ditutupi dengan arsip yang berisi kartu – kartu indeks kecil.

Kartu tersebut seperti kartu yang berada di perpustakaan, berisi judul buku berdasarkan nama pengarang atau tema dalam urutan abjad. Tetapi arsip tersebut terbentang dari lantai sampai langit – langit dan nampak tak pernah berakhir dari segala arah, memiliki judul – judul yang sangat berbeda. Ketika saya mendekati tembok arsip tersebut, arsip pertama yang menarik perhatian saya adalah arsip yang berjudul “Gadis -gadis yang pernah aku sukai”. Saya membukanya dan membolak – balik kartu – kartu tersebut. Saya cepat – cepat menutup arsip tersebut, terkejut karena saya menyadari bahwa saya mengenal nama – nama yang tertulis pada kartu tersebut.

Dan kemudian tanpa perlu diberitahu, saya tahu persis dimana saya berada. Ruangan tanpa adanya tanda – tanda kehidupan dengan arsip – arsip kecilnya adalah sebuah sistem katalog sederhana dari kehidupan saya. Di sana tertulis setiap tindakan saya tiap saat, baik besar maupun kecil, dengan rincian yang tidak dapat ditandingi oleh ingatan saya.

Suatu perasaan kagum dan ingin tahu, disertai dengan ketakutan yang berkecamuk di dalam diri saya ketika saya memulai membuka arsip – arsip itu satu persatu secara acak dan menyelidiki isinya. Beberapa membawa kenangan manis dan sukacita, yang lain memalukan dan saya sesali, sehingga saya mengintip dibalik pundak saya jika ada seseorang yang sedang memperhatikan saya. Sebuah arsip yang berjudul “Teman – teman” besebelahan dengan arsip yang berjudul ” Teman – teman yang telah aku khianati”.

Judul arsip – arsip tersebut bervariasi mulai dari yang biasa sampai yang aneh sama sekali ; ” Buku – buku yang pernah aku baca”, “Kebohongan – kebohongan yang pernah aku buat”, “Penghiburan yang pernah aku berikan”, “Lelucon – lelucon yang pernah aku tertawakan”. Beberapa yang sangat – sangat tepat kuingat ;”Cemohan yang pernah aku sampaikan kepada saudara – saudaraku”. Yang lain tidak dapat aku tertawakan;”Hal – hal yang aku lakukan dalam kemarahan”, “Gerutuan yang aku ucapkan kepada orang tuaku”. Saya tidak terkejut sama sekali akan isinya. Sering kali ada lebih banyak kartu dari yang saya perkirakan. Kadangkala ada lebih sedikit kartu dari yang aku harapkan.

Saya dikelilingi oleh volume kehidupan yang telah saya jalani. Mungkinkah saya memiliki waktu di usia 20 tahun ini untuk menulis tiap – tiap kartu yang jumlahnya bisa ribuan atau bahkan jutaan ini? Tetapi setiap kartu menegaskan kebenaran ini. Masing – masing kartu bertuliskan tulisan tangan saya sendiri, dan setiap kartunya saya tanda tangani.

Ketika saya sampai pada sebuah arsip yang berjudul “pemikiran – pemikiran yang didorong oleh hawa nafsu”, saya merasa tubuh saya dingin. Saya menrik keluar arsip itu hanya satu inci, tidak berminat menyelidiki jumlah kartu yang ada di dalamnya, dan saya hanya menarik sebuah kartu. Saya merasa jijik melihat isinya secara terperinci dan merasa kesal memikirkan saat itu juga tercata.

Toba – tiba saya merasakan kemarahan seperti seekor binatang, satu pikiran mendominsai otak saya ” Tidak seorang pun boleh melihat kartu – kartu ini! Tidak ada seorang pun akan pernah melihat ruangan ini, aku harus menghancurkan semuanya!” Dengan pikiran kalang kabut, saya merengut arsip – arsip tersebut, saya harus mengosongkan dan membakar kartu – kartu tersebut. Tetapi ketika saya memukul – mukul arsip tersebut ke lantai, saya tidak dapat mencabut satu kartu pun. Saya putus asa, menemukan bahwa kartu itu sekuat baja ketika saya berusaha untuk merobeknya.

Merasa kalah dan putus asa, saya meletakan kembali arsip itu ke tempatnya. Sambil menyandarkan dahi saya ke tembok, saya menghela nafas panjang mengasihani diri sendiri. Dan kemudian saya melihat arsip lain “Orang – orang yang pernah saya ceritakan injil”, pegangannya lebih terang dari pada arsip lainnya, terlihat baru dan hampir tidak pernah digunakan. Saya mengambil arsip itu dan menemukan hanya beberapa kartu saja di dalamnya.

Dan kemudian air mata pun mengalir, saya mulai menangis. Saya terisak begitu hebat sampai sakitnya terasa di perut dan dada saya hingga mengguncang saya. Saya jatuh berlutut dan menangis. Saya berteriak karena malu, sangat malu. Baris – baris rak arsip itu berputar – putar dalam pandangan saya yang dipenuhi air mata. Tidak ada satu orang pun boleh mengetahui ruangan itu. Saya harus menguncinya dan menyembunyikan kuncinya.

Tetapi kemudian saat saya menyeka air mata, saya melihat Dia! Tidak! Tidak! Jangan Dia! Siapa pun boleh, asal jangan Yesus!

Saya memperhatikan dengan pasrah ketika Dia mulai membuka arsip dan mulai membaca kartu – kartunya. Saya tidak tahan memperhatikan responNya. Ketika saya memberanikan diri memperhatokan wajahNya, saya melihat sebuah kesedihan yang lebih mendalam dari kesedihan saya. Seperti dibimbing oleh intiusiNya, Ia dibimbing menuju arsip – arsip yang paling buruk. Mengapa Ia harus membaca setiap arsip?

Kemudian Ia memandang saya dari seberang ruangan. Ia memandang saya dengan belas kasihan, bukan kemarahan. Saya menjatuhkan muka saya, dan menutupi muka saya dengan tangan, dan mulai menangis lagi. Ia menghampiri saya, merangkul saya. Bisa saja Ia menyampaikan begitu banyak hal dan nasehat. Tetapi Ia tidak mengucapkan sepatah katapun. Ia hanya menagis bersama saya.

Kemudian Ia mulai bangkit dan berjalan kembali menuju ke dinding arsip tersebut. Dimulai dari ujung ruangan yang satu, Ia mulai mengeluarkan sebuah arsip dan satu demi satu, Ia menuliskan namaNya di atas nama sayapada setiap kartu.

“Tidak!” Saya berteriak, buru – buru menghampiri Dia. Yan dapat saya katakan hanyalah “Tidak!Tidak!”, ketika saya menarik kartu dari tanganNya. NamaNya tidak seharusnya berada pada kartu ini. Tetapi nama itu telah tertera ditulis dengan begitu nyata dan jelas dengan tinta merah. Nama Yesus menutupi nama saya. Nama itu ditulis dengan darahNya.

Dengan lembut Ia mengembalikan kartu itu. Ia memberikan senyum kesedihan dan melanjutkan untuk menandatangani kartu – kartu itu. Saya tidak akan pernah mengerti bagaimana Ia dapat melakukannya secepat itu, tetapi Ia sudah berada pada arsip terakhir dan kembali ke sisi saya. Ia meletakan tanganNya di atas pundak saya, dan berkata; ” Sudah Selesai.”

Saya berdiri dan Ia menuntun saya keluar dari ruangan itu. Tidak ada kunci pada pintu itu. Dan.. masih ada kartu – kartu yang akan ditulis.               

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: