Skip to content

“Gommenasai, okka-san…”

October 16, 2007


Ada seorang anak berusia 10 tahun bernama Ippei. Dia hidup bersama ibu dan ayahnya. Ayah Ippei sakit – sakitan. Ia tidak mampu beranjak dari tempat tidurnya, bahkan ia tidak mampu berbicara. Usaha keluarga Ippei abngkrut untuk membayar biaya perawatan sang ayah. Sehingga mereka harus meninggalkan desa untuk melanjutkan hidup.
Suatu malam diperjalanan, mereka melewati padang gurun. Karena hari sudah mulai malam, mereka harus menghentikan kereta kuda, dan bermalam, beristirahat di gurun itu.

Tepat saat tengah malam, Ippei terbangun karena suara ledakan yang terdengar samar – samar dari kejauhan. Dan ia mendapati kain tidur ibunya telah kosong. Ippei berteriak memanggil ibunya, tetapi tak ada jawaban. Ia berpikir, ia telah ditinggalkan oleh ibunya yang tidak tahan oleh keadaan keluarga mereka. Tak lama ayah Ippei meninggal karena penyakitnya.

Ippei kemudian tinggal di rumah yatim piatu. Dan sepuluh tahun pun berlalu, Ippei tumbuh menjadi seorang pemuda yang cerdas. Ia sukses sebagai seorang pengendara kuda rodeo. Ia menjadi atlet terkenal. Tetapi Ippei sangat membenci keluarga, terutama yang namanya “ibu”. Ia tidak dapat percaya kepada siapapun. Karena bahkan seorang ibu tega meninggalkan anaknya, begitu pikirnya.Ia hidup tanpa kasih, ia sangat membenci yang namanya perhatian dan kasih sayang.

Suatu ketika, Ippei mendapati sebuah artikel dari surat kabar sepuluh tahun yang lalu. Di sana terpampang sebuah foto jenasah seorang wanita yang tewas terkena ledakan. Dan itu adalah ibu Ippei!!! Ibu Ippei tewas di malam itu. Ketika itu sekelompok serigala gurun menghampiri kereta kuda mereka. Ibu Ippei mengambil sebuah senapan lengkap dengan peluru, melangkah keluar kereta dan memancing serigala itu mengikutinya. Hingga pada jarak yang aman dari kereta ia menaburkan bubuk mesiu di tanah berencana perlahan pergi dan pada jarak aman ia akan menembak bubuk mesiu tersebut sehingga dapat membunuh kelompok serigala tersebut.

Akan tetapi sesuatu di luar rencana, tiba2 seekor serigala kembali mengarahkan pandangannya ke kereta mereka. Karena panik kawanan srigala itu akan menyerang kereta , ibu Ippei segera menembak bubuk mesiu itu dan mengorbankan dirinya untuk melindungi anak dan suaminya.

Ippei kecil tidak tahu kejadian ini.. ia dendam kepada ibu yang meninggalkannya. Sekarang ia telah tahu kenyataan dari hilangnya sang ibu. Ia menyesal telah melupakan kasih dan kepercayaan ibunya. Ia menyesal telah berprasangka buruk tentang ibu yang sangat menyayang ia dan ayahnya.

Kasih ibu sepanjang. Tak ada kasih manusia yang lebih tulus dari pada kasih seorang ibu.

Maafkan aku, ibu..

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: